Cavlent

CASE STUDY: SPV & Manager Team Diagnostic

"Apakah Manager saya rasa Supervisor?"

Konteks

Profil Organisasi

  • Perusahaan yang bergerak di industri ritel, yang mengandalkan pengawasan operasional harian yang ketat, kemampuan mengelola tim frontline, serta koordinasi antara operasional, sales, dan supply chain.
  • Dalam inisiatif OD tahun berjalan, perusahaan melakukan pemetaan terhadap Supervisor dan Manager ke atas (± 51 orang) untuk memahami:
    • Kesiapan kepemimpinan.
    • Kekuatan dan blindspot perilaku.
    • Kecocokan role dengan tuntutan operasional.
    • Area yang membutuhkan intervensi coaching dan restrukturisasi.

Tantangan yang Dihadapi

  • Variasi performa antar cabang/area yang tidak stabil.
  • Supervisor tidak selalu menjalankan fungsi kontrol dan eksekusi harian.
  • Manager belum memberikan daya dorong kepemimpinan yang cukup kuat.
  • Tingginya beban operasional membuat decision-making lambat.
  • Owner/Board masih harus intervensi dalam koordinasi lintas departemen.
  • Ada indikasi mismatch antara gaya kepemimpinan individu dan kebutuhan role yang menuntut ketegasan, ritme kerja cepat, dan kemampuan komunikasi lintas tim.

Ekspektasi Manajemen Sebelum Pemetaan Cavlent

Pemetaan perilaku terhadap ±51 orang SPV dan Manager dilakukan untuk memvalidasi akar masalah sebelum perusahaan menentukan Langkah intervensi OD:

  • Apakah Supervisor & Manager sudah memiliki pola perilaku yang sesuai untuk role yang menuntut kontrol, eksekusi, dan koordinasi?
  • Apakah gap performa muncul karena skill, mindset, atau behavioral mismatch?
  • Siapa yang siap ditingkatkan, siapa yang perlu coaching lebih intensif, dan siapa yang sebenarnya tidak cocok untuk role pengawasan?
  • Apakah struktur dan scope kerja perlu disesuaikan?
  • Bagaimana menyusun program coaching yang relevan berdasarkan data perilaku, bukan persepsi?
Disclaimer
  • Laporan ini memetakan kecenderungan soft skill dan perilaku, bukan kemampuan teknis dan pengalaman dari tim, untuk memahami pola makro yang sedang terjadi.
  • Data yang ditampilkan adalah cerminan kecenderungan perilaku saat ini, yang dapat berubah sesuai konteks, pengalaman, dan lingkungan kerja. Sehingga ini bukan label tetap, tetapi data awal untuk melihat pola kerja.
  • Keputusan OD & restrukturisasi tetap perlu mempertimbangkan konteks tujuan bisnis, budaya perusahaan, kondisi finansial, prioritas saat ini, dan pertimbangan eksternal lainnya.
  • Cavlent berfungsi sebagai navigator data awal, bukan satu-satunya dasar promosi, demosi, atau penempatan.

Beberapa Temuan dari Mapping Cavlent

Role Kerja Didominasi Strategic (43.14%), Bukan Controlling

  • Distribusi role menunjukkan Strategic 43.14%, Execution 23.53%, Relationship 31.37%, dan Controlling 1.96% (hampir tidak ada).
  • Supervisor & Manager dalam industri ini ternyata lebih berpola perencana daripada pengendali. Mereka bisa melihat gambaran besar, tetapi ritme kontrol harian lemah, disiplin eksekusi tidak konsisten, dan fungsi monitoring tidak berjalan optimal.
  • Role controlling hanya 1.96% berarti fungsi SPV/Manager yang seharusnya menjaga SOP, disiplin tim, dan akurasi laporan tidak terjadi secara natural. Ini menjadi akar kenapa banyak owner merasa: “Sudah ada Supervisor, tapi tetap harus saya yang mengecek.”

Kualifikasi Managerial Didominasi Level ‘Cukupan’ (66.67%)

  • Mayoritas SPV/Manager memiliki potensi dasar, tetapi belum matang dalam 3 aspek utama: pengambilan keputusan, membangun urgensi kerja, mengelola eskalasi dan konflik.
  • Ini menjelaskan mengapa team middle-management terkadang tidak menjadi “penyalur pesan strategis” dari top ke bottom, sering menunda keputusan, dan gagal menjadi perpanjangan tangan manajemen.

Motivasi Kerja Didominasi Motivasi Sosial (39.22%)

  • Mayoritas termotivasi oleh hubungan dan kebersamaan, dibandingkan target, kompetisi, atau reward finansial.
  • Pendekatan manajemen yang terlalu mengandalkan reward, target-based KPIs, atau sistem penalti, akan kurang efektif jika motivasi utamanya adalah koneksi sosial.
  • Ini menciptakan pola middle-management yang cenderung kurang agresif pada hasil.

Mindset Finishing & Target Moderat, Tapi Rule-Following Lemah

  • Supervisor & Manager cukup baik dalam menyelesaikan pekerjaan, namun kurang dalam mengejar target, kurang menunjukkan growth mindset yang tinggi, dan relatif kurang disiplin pada aturan serta SOP.
  • Dalam industri ritel, lemahnya rule-following menyebabkan SOP tidak dijalankan konsisten antar area, standar kerja berbeda per cabang, dan operasional sulit distandardisasi.

Gap Keterampilan Kerja: Leadership Lemah, Data Kuat, Ketegasan Rendah

  • Temuan ini menegaskan adanya ketimpangan, di mana tim managerial piawai membaca data dan membuat rencana, tetapi kurang tegas, kurang tertib dalam eksekusi, tidak stabil dalam mengambil keputusan cepat, dan tidak cukup kuat dalam memimpin tim operasional.
  • Inilah yang sering menyebabkan meeting banyak namun perubahan sedikit, rencana bagus tapi tidak tuntas, keputusan lambat, konflik berlarut, board harus “turun gunung” memastikan eksekusi.

Pola Yang Terlihat di Seluruh Tim SPV & Manager

Komunikasi kuat, tapi leadership execution lemah

Mereka bisa menjelaskan, namun tidak otomatis menggerakkan tim.

Rencana banyak, implementasi sedikit

Kecenderungan strategic tinggi tidak diiringi ketegasan dalam memastikan rencana jalan.

Hubungan baik, tapi tidak otomatis produktif

Karena motivasi sosial tinggi, mereka ada kecenderungan lebih fokus pada harmoni daripada hasil.

Data kuat, aksi lemah

Analisa data cenderung bagus, namun keputusan lambat dan dampak eksekusi minim.

Kepatuhan SOP tidak konsisten

Rule-following rendah memicu variasi performa antar area.

Relevansi Hasil Mapping bagi:

Business Coach

Case ini menunjukkan bahwa masalah performa SPV/Manager sering berakar pada behavioral mismatch, bukan semata skill atau pengalaman.

Coach dapat melakukan intervensi yang lebih presisi. Misal (berdasarkan finding dalam perusahaan ini):

  • Penguatan ketegasan & ritme eksekusi.
  • Membangun urgensi kerja.
  • Decision-making berbasis konteks.
  • Coaching kepemimpinan untuk middle-management.
  • Segmentasi role: planner, executor, people-leader.

Relevance of Mapping Results For:

Owner & Top Management

Owner bisa melihat akar masalah, bukan simptomnya: Bukan “Supervisor kurang tegas”, melainkan role & behavior tidak align.

Keputusan OD lebih presisi: Termasuk restrukturisasi SPV/Manager, promosi, redesign SOP, dan pembagian scope kerja.

Mengurangi ketergantungan pada owner: Dengan memahami siapa butuh kontrol ketat, siapa yang mandiri, dan siapa yang perlu repositioning.

Mengurangi biaya salah penempatan: Penempatan leadership kini berbasis data perilaku, bukan senioritas.

About Cavlent

For decision-makers prioritizing speed and precision, Cavlent is a transformation navigator offering behavior-based team mapping. We identify soft skill mismatches and hidden risks in team dynamics through same-day insights, compared to traditional methods that are time-consuming and rely on manual processes.

For more information, contact:

  • Ayu / +62.851.8655.0077 (WA)
  • Afi / +62.852.1521.0077 (WA)
© Copyright 2026 Cavlent