ampir kebanyakan orang sebenarnya bersifat ambivert karena 2 karakter ini selalu ada. Agak kurang tepat, dan terkesan dipaksakan apabila kita harus mengkategorikan pola sosial seseorang hanya dengan 2 kategori tersebut, mengingat setiap orang memiliki kadar extrovert maupun introvert yang berbeda.
Pada perkembangan ilmu psikologi di era modern dan didukung dengan berkembangnya teknologi yang menyebabkan perubahan besar dalam metode bersosialisasi, bentuk sosialisasi akan lebih tepat bila dilihat berdasarkan 3 faktor, yaitu:
Tiga hal diatas akan membuat pola sosialisasi menjadi sangat beragam dan bervariasi sehingga penggolongan pola sosial dengan 2 tipe yaitu extrovert dan introvert menjadi kurang tepat untuk memetakan pola sosial di psikologi modern.
Mungkin kita sering menemui teman yang sekilas terlihat sebagai introvert namun ternyata extrovert, dan juga sebaliknya. Beberapa kasus yang muncul:
Yang menjadi persoalan adalah ketika hasil tes kepribadian yang ada mengkategorikan kita sebagai sosok introvert, namun kenyataannya kita memiliki karakter extrovert yang masih dalam batas wajar dan tidak over-dominated (seperti kasus nomor 1). Bila dia sudah dikategorikan sebagai introvert dalam tes kepribadian konvensional, maka akan sangat kecil kemungkinannya untuk diterima bekerja sebagai marketing. Padahal dengan pola perkembangan psikologi di era modern, karakter tersebut sangat memungkinkan dan berpotensi untuk bekerja sebagai marketing, dengan syarat menggunakan alat bantu sosial media / digital dalam pelaksanaannya (bukan marketing konvensional yang mengharuskan pertemuan langsung)
Bisa dibayangkan potensi yang terbuang dari orang yang bersangkutan, yang disebabkan oleh pengkategorian kepribadian yang kurang tepat. Bukan begitu?